Bagaimana Aturan Hak Asuh Anak Perempuan Dalam Perceraian?

Hak asuh anak perempuan dalam suatu perceraian biasanya akan menjadi hal yang paling penting untuk diperhatikan. Sebenarnya tidak hanya hak asuh anak perempuan saja, akan tetapi hak asuh semua anak pada saat orang tua nya bercerai haruslah sangat diperhatikan. Perceraian pastinya menjadi suatu peristiwa yang menyakitkan untuk semua pihak. Baik itu pihak suami, istri, kedua belah pihak keluarga, terutama anak-anak yang akan menjadi korban dari perceraian ini. Tak ada seorang pun yang ingin merasakan pahitnya buah dari perceraian, terutama anak-anak yang belum mengerti apa masalah yang dihadapi oleh orang tua mereka. Maka perkara hak asuh anak harus menjadi pembicaraan yang serius dalam suatu perceraian.

Pada setiap kasus perceraian, perkara merebutkan hak asuh anak, terutama hak asuh anak perempuan selalu menjadi polemik yang berjalan cukup lama  untuk dipecahkan oleh kedua belah pihak. Pihak ibu  pastilah selalu merasa menjadi pihak yang paling berhak atas hak asuh anak ini dengan alasan kuat yaitu mengandung anak tersebut selama sembilan bulan dan merawatnya. Akan tetapi, pihak ayah pun pasti menginginkan hak asuh anak tersebut berada ditangannya karena merasa selama ini dirinya lah yang mencukupi segala kebutuhan dan keperluan dari anak tersebut.

Bagaimana Aturan Hak Asuh Anak?

Pada  Pasal 41 UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa apabila hubungan perkawinan putus akibat perceraian, tidak akan memutuskan hubungan antara orang tua yang bercerai dari anak-anak kandung mereka. Dari pasal ini juga dapat dijelaskan bahwa  pihak orang tua masih dan akan selalu mempunyai kewajiban kepada anak-anaknya. Kedua belah pihak orang tua tetap diharuskan membiayai dan mendidik anak-anak mereka. Kedua belah pihak orang tua tetap harus memenuhi segala kebutuhan anak-anak mereka baik itu dalam hal pembiayaan hidup, pendidikan, pemberian pengajaran mengenai aturan, norma, tata krama, dan semua hal yang sepatutnya diajarkan orang tua kepada anaknya. Bercerai bukan berarti melepaskan tanggung jawab pada anak tersebut. Akan tetapi diharapkan orang tua yang bercerai lebih memberikan perhatian ekstra kepada anak-anak mereka, karena dikhawatirkan sang anak akan mengalami kesedihan dan luka psikis di dalam dirinya jika tidak dirawat dengan benar.

Lalu, Bagaimana Aturan Hak Asuh Anak Perempuan?

Dalam suatu kasus perceraian, jika pasangan tersebut mempunya anak perempuan maka hak asuh anak perempuan itu akan menjadi hal yang diperdebatkan. Hak asuh anak perempuan yang sudah berusia 7 tahun akan dialihkan kepada sang ayah sampai nanti anak tersebut menikah dan menjadi tanggung jawab dari suaminya. Dasar dari pemutusan hal ini adalah karena ayah sebagai pihak laki-laki dianggap lebih baik dalam penjagaan terhadap anak perempuan. Akan tetapi, bukan berarti pihak ibu tidak bisa merawat dan menjenguk anaknya. Pihak ibu tetap bisa melakukan itu untuk anaknya dan pihak ayah tidak berhak untuk menghalangi itu.

Namun, akan berbeda hal nya apabila pihak ayah tidak mampu mengurus anak perempuan tersebut. Misalnya saja hal yang membuat sang ayah dikatakan tidak mampu dalam mengurus anak perempuan itu adalah karena sibuk, tidak memungkinkan secara finansial, pengetahuan tentang agama dan pendidikan yang kurang, ataupun tidak peduli terhadap anak itu, maka hak asuh bisa diambil alih oleh pihak ibu. Jika sudah terjadi hal-hal yang disebutkan yang menjadi ketidakmampuan ayah dalam merawat anak perempuan itu, pihak ibu bisa mengambil alih hak asuh anak tersebut. Pada saat seperti itulah pihak ibu bisa langsung mengajukan hak asuh anak perempuan tersebut.

Leave a Reply